Sejarah

Politeknik Arutala Johana Hendarto lahir dari penggabungan dua akademi perintis tenaga kesehatan di Indonesia — Akademi Terapi Wicara, pelopor pendidikan terapis wicara pertama di Indonesia, dan Akademi Audiologi Indonesia, perintis tenaga ahli di bidang pendengaran dan keseimbangan Politeknik Arutala Johana Hendarto hadir sebagai perguruan tinggi vokasi kesehatan pertama di Indonesia yang secara khusus mengembangkan keilmuan dan keterampilan di bidang komunikasi manusia - meliputi terapi wicara, bahasa, dan pendengaran.

Dengan visi “Menjadi perguruan tinggi yang adaptif, berdaya saing, dan beretika global dalam mencetak sumber daya unggul di bidang terapi wicara dan pendengaran tahun 2046,” politeknik ini berkomitmen menyiapkan lulusan yang siap kerja, kompeten, dan berdaya saing internasional.

Tiga Program Studi Unggulan Kami:
D3 Terapi Wicara (Akreditasi Baik Sekali – LAM-PTKes)
Fokus pada penanganan gangguan komunikasi akibat gangguan neurologis pada anak dan dewasa.


D4 Terapi Wicara dan Bahasa (Akreditasi Baik – LAM-PTKes)
Mengembangkan intervensi bahasa dan komunikasi berbasis riset dan teknologi.


D3 Audiologi (Akreditasi Baik Sekali – LAM-PTKes)
Program perintis dan satu-satunya di Indonesia yang menyiapkan tenaga ahli madya dalam pelayanan pendengaran dan keseimbangan.

Didukung oleh dosen praktisi, dokter spesialis terkait keilmuan, dan tim ahli lintas profesi, mahasiswa juga mendapatkan pengalaman praktik langsung di berbagai rumah sakit, klinik terapi wicara, sekolah luar biasa dan hearing center ternama.


Sejarah Politeknik Arutala Johana Hendarto

Politeknik Arutala Johana Hendarto lahir dari penggabungan dua akademi pionir di Indonesia, yaitu Akademi Terapi Wicara dan Akademi Audiologi Indonesia, di bawah naungan Yayasan Bina Wicara. Kedua akademi ini merupakan lembaga pertama yang melahirkan tenaga ahli terapi wicara dan audiologi di Indonesia, serta menjadi motor penggerak lahirnya program studi serupa di berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta.

Nama politeknik ini dipilih untuk menghormati dua tokoh besar, Ibu Johana Sunarti Nasution dan Prof. dr. Hendarto Hendarmin Sastrosupono, Sp.THT-KL, yang pertama kali menyadari pentingnya tenaga terapis wicara dan audiologi bagi masyarakat Indonesia. Arutala berasal dari bahasa Sansakerta yang bermakna “cita-cita tinggi dan mulia”, merupakan penghormatan atas jasa dan pengabdian Ibu Johana Sunarti Nasution dan Prof. dr. H. Hendarto Hendarmin, Sp.THT-KL (K) sebagai pendiri dan tokoh perintis pendidikan terapi wicara dan audiologi di Indonesia yang diabadikan menjadi Johana Hendarto.


Sejarah Yayasan Bina Wicara dimulai pada tahun 1971 dengan kursus Speech Correction A dan B, yang mendidik tenaga bina wicara dalam waktu singkat untuk membantu anak-anak dengan gangguan komunikasi di Sekolah Luar Biasa.

Tahun 1973, yayasan mendirikan Lembaga Pendidikan Bina Wicara (LPBW) Vacana Mandira, pusat pendidikan terapi wicara dengan program 3 tahun. Setahun kemudian, lahirlah lulusan pertama bergelar Ahli Bina Wicara.

Pada 1988, yayasan mendapat izin resmi dari Departemen Kesehatan untuk menyelenggarakan pendidikan Terapi Wicara secara formal, yang kemudian diperbaharui tahun 1991. Selanjutnya, tahun 2002, Yayasan Bina Wicara mendirikan Akademi Audiologi Indonesia, program pendidikan formal pertama di bidang audiologi di Indonesia. Akademi ini menjadi solusi atas kebutuhan tenaga ahli audiologi yang sangat penting dalam pelayanan kesehatan pendengaran, bicara, dan bahasa.


Sebagai langkah strategis, tahun 2024 Yayasan Bina Wicara menggabungkan kedua akademi menjadi Politeknik Arutala Johana Hendarto melalui SK Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia No: 167/A/O/2024. Penggabungan ini memperkuat posisi yayasan sebagai pionir pendidikan vokasi di bidang kesehatan komunikasi dan pendengaran.

Saat ini, politeknik menyelenggarakan tiga program unggulan:

  1. D3 Terapi Wicara – mencetak tenaga profesional terapi wicara untuk berbagai kebutuhan klinis dan pendidikan.
  2. D4 Terapi Wicara dan Bahasa – menyiapkan lulusan dengan kompetensi lanjutan dalam gangguan komunikasi, bahasa, dan menelan.
  3. D3 Audiologi – satu-satunya program di Indonesia yang mendidik tenaga ahli audiologi untuk layanan pendengaran dan keseimbangan.

Pengelolaan Yayasan Bina Wicara didukung oleh tokoh-tokoh medis berpengaruh, termasuk Prof. Dr. Teguh A.S. Ranakusuma, Sp.S (K) dan Dr. dr. Setyo Widi Nugroho, Sp.BS (K), praktisi dan akademisi di bidang bedah saraf. Kehadiran mereka memperkuat komitmen yayasan untuk terus menghadirkan pendidikan berkualitas, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Dengan pengalaman Yayasan Bina Wicara lebih dari 50 tahun secara berproses menjadikan Politeknik Arutala Johana Hendarto berdiri sebagai kampus vokasi kesehatan terdepan di Indonesia, berfokus pada Terapi Wicara dan Audiologi. Politeknik ini bukan hanya mencetak lulusan, tetapi juga melanjutkan misi mulia Yayasan Bina Wicara: meningkatkan kualitas hidup individu dengan gangguank omunikasi,makan,menelan dan pendengaran.